JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) membukukan pendapatan US$407,12 juta sepanjang 2024, meningkat dibanding 2023 yang meraih US$406,29 juta. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit, PGE juga mencatat laba bersih US$160,30 juta, turun dibanding pencapaian 2023 sebesar US$163,57 juta.

Yurizki Rio, Direktur Keuangan PGE, menambahkan PGE tetap fokus pada pengelolaan keuangan yang prudent dan optimal untuk memastikan keberlanjutan investasi dalam pengembangan proyek panas bumi baru dan peningkatan kapasitas produksi. “Memang beban operasi meningkat, tetapi ini merupakan bagian dari investasi strategis untuk memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang dan mendukung ekspansi kapasitas lebih besar ke depan,” ujar Yurizki, Selasa (25/3).

Beban pokok pendapatan PGE tercatat meningkat menjadi US$164,89 juta dari USD$58,35 juta pada 2023, seiring dengan ekspansi kapasitas. Namun, arus kas operasional yang meningkat dari US$255,19 juta menjadi US$258,29 juta pada 2024 yang mencerminkan stabilitas pendapatan dan efektivitas pengendalian biaya. Sementara itu, peningkatan aset dan pengelolaan liabilitas yang lebih baik juga menjadi indikator positif kinerja perusahaan.

Total aset PGE meningkat dari US$2,96 miliar menjadi US$2,99 miliar pada 2024, menandakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Di sisi lain, liabilitas berhasil ditekan dari US$992,89 juta menjadi US$988,65 juta, menunjukkan upaya efisiensi dalam pengelolaan utang.

Julfi Hadi, Direktur Utama PGE, mengatakan PGE terus memperkuat posisi sebagai pemimpin industri panas bumi di Indonesia dengan strategi operasional yang berkelanjutan. Pada 2024, PGE berhasil mencatat produksi listrik dan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah, yang didukung oleh peningkatan kinerja operasional di beberapa wilayah kerja panas bumi.

“Kinerja yang solid ini mencerminkan komitmen kami dalam mengoptimalkan sumber daya dan meningkatkan kontribusi terhadap transisi energi nasional,” kata Julfi.

Pada tahun 2024, PGE mencatat peningkatan produksi di berbagai wilayah, termasuk Kamojang (+5,36% YoY), Lahendong (+0,40%), dan Lumut Balai (+2,72% YoY). Secara keseluruhan, produksi listrik mencapai 4.827,22 GWh, meningkat 1,96% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan stabilitas dan efisiensi operasional.

Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan, PGE terus memperluas portofolio proyek panas bumi dengan mengembangkan berbagai Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) baru untuk terus meningkatkan kontribusi dalam mendukung target bauran energi nasional sebesar 23% energi baru dan terbarukan pada tahun 2025.

Julfi mengatakan PGE optimistis terhadap prospek pertumbuhan dengan rencana commissioning Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW pada tahun ini. “Tambahan kapasitas ini tidak hanya memperkuat portofolio energi hijau PGE, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan dan daya saing dalam menghadapi permintaan energi bersih yang terus berkembang,” kata dia.(AT)